Commuter line (CL) Bogor Jakarta Minggu pagi 29 April 2012, selepas
kita melaksanakan kegiatan kantor di Bogor. Duduk sebelah saya dua pasang
anak-anak yang sedang kasmaran. Risih juga melihat mereka pegang-pegang tangan,
ciuman tanpa malu-malu. Kemudian saya tanya “kamu kelas berapa mas?” di jawab
kelas delapan. Astagfirullah dalam hati saya, pergaulan
anak-anak remaja sekarang sungguh semakin memprihatinkan. Ada yang masih SD
atau SMP sudah pacaran dan banyak pula anak SMU yang berpacaran... Apakah sejalan
dengan gelombang modernisasi maka telah mengakibatkan kemerosotan moral atau
degradasi moral?
Kalau kita
tengok cerita-cerita yang sering tayang di TV (sebagai media pembawa pesan)
seperti Cinta Abu-abu, Get married Series, atau FTV sinetron tersebut,
yang cukup sukses di pasaran, boleh jadi kita bisa berasumsi, bahwa dunia
berjuta rasanya itu. Ada pergeseran yang cukup menarik , pelakonnya atau kisah
percintaannya , kian muda yaitu siswa SMP dan SMA.
Boleh jadi ini
, pergeseran usia dalam sinetron-sinetron tersebut, terjadi pula dalam
kenyataan sehari-hari.
Jika dulu, yang
senantiasa, sayang-sayangan, atau yang mulai berani pacaran itu, setelah mereka
menginjak masa pendidikan mahasiswa. Lalu bergeser, boleh jadi, mulai tahun
1980-an, anak-anak yang menginjak masa pendidilan SMA.
Dan sekarang,
dunia berjuta rasanya itu, boleh jadi sudah merambah ke anak-anak usia SMP.
Bahkan, boleh jadi siswa-siswa SD pun sudah terjangkiti virus pacaran itu.
Itu sebabnya
peristiwa kehamilan di usia muda, karena “kecelakaan” atau suka sama suka, jadi
sering terjadi. Betapa tidak membuat miris dan prihatin ...
Berikut kutipan
dari Hidayahtullah.com
Dalam Journal of Pain, peneliti dari
Universite de Montreal, University Hospital Center dan McGill University
menemukan anak remaja yang mulai pacaran sejak usia dini lebih banyak mengalami
sakit kepala, perut dan pinggang. Mereka juga dilaporkan lebih banyak depresi
dibanding rekan seusianya yang belum pernah pacaran.
Dr Isabelle Tremblay, seorang peneliti dari Universite de Montreal serta Dr
Michael Sullivan, seorang profesor psikolog dari McGill University telah
melakukan studi untuk mengetahui pengaruh menjalin hubungan sejak dini terhadap
kesehatan seseorang.
Sebanyak 382 pelajar remaja berumur rata-rata 12 hingga 17 tahun di Kanada direkrut sebagai partisipan penelitian. Mereka diminta untuk mengisi kuesioner tentang frekuensi dan intensitas mengalami gangguan emosi serta fisik dan juga usia awal mengenal cinta.
Hasilnya yaitu, seseorang yang mengenal cinta lebih dini cenderung menjadi pribadi yang rapuh, sakit-sakitan, merasa tidak aman dan mudah depresi. "Gejala itu berkembang dari sejak masih kanak-kanak, lalu remaja dan akhirnya ketika dewasa," ujar Sullivan seperti dilansir Sciencedaily, Kamis (26/11/2009).
Sebanyak 382 pelajar remaja berumur rata-rata 12 hingga 17 tahun di Kanada direkrut sebagai partisipan penelitian. Mereka diminta untuk mengisi kuesioner tentang frekuensi dan intensitas mengalami gangguan emosi serta fisik dan juga usia awal mengenal cinta.
Hasilnya yaitu, seseorang yang mengenal cinta lebih dini cenderung menjadi pribadi yang rapuh, sakit-sakitan, merasa tidak aman dan mudah depresi. "Gejala itu berkembang dari sejak masih kanak-kanak, lalu remaja dan akhirnya ketika dewasa," ujar Sullivan seperti dilansir Sciencedaily, Kamis (26/11/2009).
Peneliti belum sepenuhnya mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Namun, kesimpulan yang dinyatakan peneliti adalah, seseorang yang menjalin hubungan sejak dini, contohnya remaja, akan memiliki alarm rasa sakit yang lebih tinggi, terutama jika remaja itu menjalin hubungan yang buruk dengan pasangannya.
"Mereka punya kecenderungan tingkat rasa sakit yang lebih mendalam. Mereka
benar-benar meresapi perasaan buruk seperti sedih atau kesal karena secara
psikologi mereka sudah mengenalnya ketika berhubungan dengan pasangannya," jelas Sullivan.
Tapi akibat terlalu mendalami perasaan sedih dan emosional itu adalah depresi dan penyakit lainnya. "Karena terlalu sedih atau marah, perasan depresi pun bisa muncul. Akibatnya mereka jadi tidak mau makan, kurang tidur atau tidak mau melakukan apa-apa. Dari situlah muncul penyakit-penyakit seperti pusing, sakit perut dan lainnya," jelas Sullivan.
Mereka yang mengenal cinta dan mengalami masalah dalam berhubungan dengan pasangan lebih dulu memiliki pandangan yang lebih serius dan sikap yang lebih tertutup.
Tapi akibat terlalu mendalami perasaan sedih dan emosional itu adalah depresi dan penyakit lainnya. "Karena terlalu sedih atau marah, perasan depresi pun bisa muncul. Akibatnya mereka jadi tidak mau makan, kurang tidur atau tidak mau melakukan apa-apa. Dari situlah muncul penyakit-penyakit seperti pusing, sakit perut dan lainnya," jelas Sullivan.
Mereka yang mengenal cinta dan mengalami masalah dalam berhubungan dengan pasangan lebih dulu memiliki pandangan yang lebih serius dan sikap yang lebih tertutup.
Hal itu memicu perasaan stres dan penyakit
fisik lainnya.
Sementara itu, mereka yang belum menjalin cinta pada usia dini cenderung lebih ekspresif dan lebih banyak bersosialisasi dengan yang teman-teman lainnya sebagai bentuk mencari dukungan pada saat mereka sedih atau tidak ada masalah.
Kepada orang tua mari kita
selamatkan anak-anak kita agar kelak dapat menjadi orang yang dapat
membanggakan dan membahagiakan kita sebagai orang tua dan bermanfaat bagi
masyarakat.