Sekelumit Cerita Tentang Kekerasan Anak
Disuatu menjelang sore hari,
ketika kami (aku dan suami tercintaku) sekedar berjalan2 di Jl. Tegalan tampaklah
sorang anak seumuran Fia (putri kecilku yang berumur 5th) sedang berjalan
dengan kedua orang tuanya. Dari arah belakang ada truk “mollen” yg berjalan ke
arah jalan Matraman Raya. Maksud hati si ibu meminta sang anak berjalan
mendahuluinya, tp yg terjadi malah memukul kepala sang anak... miris hati ini
melihat anak kecil 5th dipukul kepalanya oleh ibunya sendiri...
Entah sejak kapan pastinya saya
mulai peduli dengan kekerasan pada anak (child abuse). Apakah sejak saya hijrah
ke Jakarta J
Kejadian kekerasan terhadap anak
dibawah umur disekitar tempat tinggalku sepertinya bukanlah suatu yang “aneh”.
Sore hari pulang dari kantor,
takala penat melanda badan. Ketika suami sedang Dinas Luar di baringkan badan
sayup2 terdengar suara tetangga sedang bersenda gurau dengan yg lainnya.
Terdengar suara rengekkan Novi anak tetanggaku yg berumur 6th. Dia menangis
minta makan, sang ibu bukannya mengambilkan malah menghardik dengan kata2 yg
bagiku amat sangat tidak sopan “bukannya dari tadi lu minta makan goblok!”.
Astagfirullah bukannya mengambilkan makan sang anak, eh ibu td malah meneruskan
ngobrol dengan kanan kirinya.
Kok mereka gak sadar ya, bahwa
sesungguhnya anak yang tinggal bersama mereka hanya titipan? Seharusnya meereka
banyak bersyukur telah dikaruniai keturunan, seharusnya mereka melihat begitu
banyak orangtua di luar sana yang belum dikaruniai keturunan. Mengapa yang
sudah diberikan keturunan kok malah menyiksa titipan-Nya? Analoginya, kita ke
supermarket, kita titip helm & jaket ke petugas penitipan barang. Apa iya
petugasnya berhak untuk merusak barang yang kita titipkan? Enggak kan?
Mengutip Salah satu puisi Kahlil
Gibran yang berjudul “Anakmu bukan anakmu” :
“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir melaluimu tetapi
bukan berasal darimu. Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu, curahkan kasih
sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu karena mereka dikaruniai pikirannya
sendiri.
Berikan rumah untuk raganya,
tetapi tidak jiwanya, karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau
datangi bahkan dalam mimpi sekalipun.
Bisa saja mereka mirip dirimu,
tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi seperti sepertimu. Sebab kehidupan
itu menuju ke depan, dan tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
anak panah yang melucur. Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian. Dia
menentangmu dengan kekuasaanNya, Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam
rentangan tangan Sang Pemanah, Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat
laksana kilat Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.
Menurut
hasil pengaduan yang diterima KOMNAS Perlindungan Anak (2006), pemicu kekerasan terhadap anak
yang terjadi diantaranya adalah : 1) Kekerasan dalam rumah tangga, yaitu dalam keluarga terjadi kekerasan
yang melibatkan baik pihak ayah, ibu dan saudara yang lainnya. Kondisi ini
kemudian menyebabkan kekerasan terjadi juga pada anak. Anak seringkali menjadi
sasaran kemarahan orang tua, 2) Disfungsi keluarga, yaitu peran orang tua tidak
berjalan sebagaimana seharusnya. Adanya disfungsi peran ayah sebagai pemimpin
keluarga dan peran ibu sebagai sosok yang membimbing dan menyayangi, 3) Faktor
ekonomi, yaitu kekerasan timbul karena tekanan ekonomi. Tertekannya kondisi
keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak terjadi, 4)
Pandangan keliru tentang posisi anak dalam keluarga. Orang tua menganggap bahwa
anak adalah seseorang yang tidak tahu apa-apa. Dengan demikian pola asuh apapun
berhak dilakukan oleh orang tua.
Menurut Sitohang (2004), penyebab
munculnya kekerasan pada anak adalah a) Stress berasal dari anak. Yaitu,
kondisi anak yang berbeda, mental yang berbeda atau anak adalah anak angkat, b)
Stress keluarga. Yaitu, kemiskinan pengangguran mobilitas, isolasi, perumahan
tidak memadai, anak yang tidak diharapkan dan lain sebagainya, c) Stress
berasal dari orang tua. Rendah diri, Waktu kecil mendapat perlakuan salah,
Depresi, Harapan pada anak yang tidak realistis, Kelainan karakter/gangguan
jiwa.
Sitohang (2004) melihat ketiga
hal tersebut adalah situasi awal atau kondisi pencetus munculnya kekerasan pada
anak. Pada gilirannya kondisi tersebut berlanjut pada perilaku yang salah orang
tua terhadap anaknya. Contohnya, penganiayaan dan teror mental.
Dampak-dampak yang
ditimbulkan kekerasan terhadap anak (child abuse) , antara lain :
1.
Dampak kekerasan fisik
Anak yang mendapat perlakuan kejam
dari orang tuanya akan menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua
akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. Orang tua agresif melahirkan anak-anak
yang agresif, yang pada gilirannya akan menjadi orang dewasa yang menjadi
agresif. Lawson (dalam Sitohang, 2004) menggambarkan bahwa semua jenis gangguan
mental ada hubungannya dengan perlakuan buruk yang diterima manusia ketika dia
masih kecil. Kekerasan fisik yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu
lama akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka
secara fisik hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
2.
Dampak kekerasan psikis
Unicef (1986)
mengemukakan, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan
penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti
bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan,
anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki
dorongan bunuh diri. Menurut Nadia (1991), kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau
didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik.
Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan
dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina
persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan
obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.
3.
Dampak kekerasan seksual
Menurut Mulyadi (Sinar
Harapan, 2003) diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut
menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski kini
mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang
dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan
dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil
pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol
jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak
beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah
kulit, dll (dalam Nadia, 1991);
4.
Dampak penelantaran anak
Pengaruh yang paling terlihat
jika anak mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang
tua terhadap anak, Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari
orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan
perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada
masa yang akan datang
Anak
adalah nyawa tak berdaya
Meskipun
anak adalah sebuah darah daging manusia
Bukan
berarti manusia boleh melepas makian
Bukan
berarti manusia boleh mengayun tamparan
Anak
adalah nyawa tak berdaya
Hanya
bisa menangis bila benturan kasar menerpanya
Karena anak adalah titipan yang kuasa
Karena anak adalah nyawa tak berdaya
Referensi
1.
Latar Belakang Kekerasan pada
Anak pertama kali diterbitkan dunia psikologi pada 27
November 2008
2.
Dampak Kekerasan terhadap Anak
pertama kali diterbitkan dunia psikologi pada 27
November 2008
No comments:
Post a Comment